Headlines News :
Home » » Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Written By Maryono on January 12, 2013 | 11:29 PM



Apakah segenap ajaran tersebut merupakan elaborasi atas bentuk mistik Ibn ‘Arabi (wahdatul wujud) dan martabat tujuh (al-maratib al-sab’ah) milik al-Burhanpuri? Apakah ia memang terkonstruk dalam terma tasawuf falsafi yang dekat dengan Syi’ah?
Saya belum meneliti hubungan ajaran SSJ dengan Ibnu Araby, Burhanpuri maupun Syi’ah. Namun merujuk silsilah Tarikat Akmaliyyah yang berpuncak pada Abu Bakar as-Shiddiq dan watak tarikatnya yang egaliter, saya tidak melihat hubungan tarikat SSJ dengan tasawuf  Syi’ah.

Adakah proses akulturasi antara Islam dan mistik Hindu-Jawa dalam tasawuf Jenar?
Sepanjang yang saya tahu, mistik Hindu-Jawa penuh dengan perangkat ritual dengan banyak simbol-simbol dalam upacara bersifat mistis. Sementara ajaran tarikat SSJ ‘bersih’ dari simbol dan upacara ritual bersifat mistis. Tarikat SSJ sangat ringkas. Aplikatif. Tidak dikenal dewa-dewa sebagai perantara menuju Sang Mahadewa. Tidak dikenal juga wasilah melalui  wali-wali keramat. Yang dikenal adalah hubungan langsung dari manusia sebagai individu menuju Allah dengan satu-satunya wasilah: Nur Muhammad.
Kontroversi nyata yang mengiringi ajaran Siti Jenar adalah tuduhan “abai syari’at”. Jika sudah manunggal, maka syari’at tak dibutuhkan lagi. Apakah betul? Mohon penjelasan hubungan antara syari’at dan hakikat dalam tasawuf Siti Jenar.
Tuduhan “mengabaikan syariat” sangat lekat dengan ajaran SSJ. Itu terkait dengan prinsip disiplin keilmuan yang harus dipilahkan secara tegas. Maksudnya, disiplin syariat atau lebih spesifik ilmu fiqih tidak boleh digunakan memaknai dan  menilai ilmu tasawuf.  Sebab piranti pengetahuan, asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, dan mitos  masing disiplin  sangat berbeda.
Dalam disiplin ilmu tasawuf, misal, ajaran SSJ menganut faham wahdatul adyan (kesatuan agama-agama) di mana  semua  agama sejatinya adalah berasal dari Tuhan dan orang seorang menganut agama tertentu karena kehendak Tuhan semata. Dengan pandangan itu, murid-murid SSJ dalam agama formal tetap ada yang Hindu dan Buddha maupun Kapitayan. Kepada mereka tentu saja SSJ tidak memerintahkan untuk menjalankan syariat Islam.
Jika ada yang tanya kenapa SSJ tidak mensyaratkan semua muridnya Islam?
Itulah pandangan ulama sufi yang tidak sederhana untuk dinilai dengan kacamata fiqih. Selain itu,  para pengikut SSJ memandang bahwa ketentuan syariat yang diwajibkan atas manusia tidak bersifat mutlak. Semua hal yang bukan Tuhan selalu nisbi.  Demikian juga syariat. Orang gila, anak belum baligh, orang pingsan, orang tidur, orang tidak sempurna akalnya, orang idiot, orang hilang ingatan, orang linglung, misal,  pasti tidak kena hukum wajib syariat. Karena itu, pada saat seseorang dalam perjalanan ruhani tenggelam ke dalam Tauhid (fanaa fii Tauhid) yang berarti hilang kesadaran jati dirinya, lenyap keakuannya, tidak kena hukum syariat. Bagaimana dia bisa menjalankan syariat sedang dirinya sendiri saja dia tidak sadar. Tetapi manakala orang sudah sadar kembali dari keadaan lupa diri (karena hanya ingat Allah saja) dan hidup bermasyarakat, maka wajib bagi dia mengikuti  syariat.
Share this article :

1 comments:

Anonymous said...

sebaiknya dipertimbangkan dulu...
janganlah buru-buru judge sesuatu kalo tidak tahu/mengerti..
justru akan timbulkan fitnah..

VISITOR

Business Top  blogs Business Blogs
Ping.sg 
Finance blog
 
Support : Creating Website | rajawa01Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. "RAJAWA01" Peduli Pendidikan - All Rights Reserved